KILASNEWSTV.Com, PALEMBANG — Upaya mencari titik terang antara DPW Srikandi Pemuda Pancasila Sumatera Selatan dan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Sumsel kembali menemui jalan buntu.

Pertemuan yang digelar pada 24 September 2026 dan diharapkan menjadi forum klarifikasi justru disebut belum menghasilkan kesepakatan. DPW Srikandi Pemuda Pancasila Sumsel pun menyatakan akan melanjutkan proses yang sebelumnya telah ditempuh, termasuk mempertimbangkan langkah hukum.

Ketua DPW Srikandi Pemuda Pancasila Sumsel, Prof. Dr. (Law) Hj. Sunnah NBU, SH, MH, CPLA, mengatakan persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut perubahan posisi dalam struktur kepengurusan BKOW.

Menurutnya, terdapat persoalan yang lebih serius setelah nama organisasi dan salah satu pengurus DPW Srikandi Pemuda Pancasila disebut terseret dalam informasi yang dipersoalkan.

Sunnah mengatakan pihaknya telah berulang kali meminta klarifikasi. Surat permintaan klarifikasi disebut telah dilayangkan pada April 2026, kemudian dilanjutkan dengan somasi pertama pada Juni dan somasi kedua pada Juli 2026.

Namun, menurut dia, langkah tersebut belum memperoleh tanggapan yang dianggap memadai.

“Kami tetap akan melanjutkan proses hukum,” tegas Sunnah.

Sunnah menjelaskan, perubahan posisi dalam kepengurusan hasil rapat formatur memang menjadi salah satu bagian yang dipersoalkan. Namun, menurut dia, perubahan tersebut bukan satu-satunya sumber persoalan.

Ia menilai perubahan yang dilakukan tanpa sepengetahuan salah satu anggota formatur telah menimbulkan ketersinggungan dan mempertanyakan proses pengambilan keputusan dalam organisasi.

Persoalan kemudian semakin berkembang karena menyangkut Leni Mardiana, Wakil Ketua I DPW Srikandi Pemuda Pancasila Sumsel yang juga tercatat sebagai pengurus BKOW.

Sunnah menyebut Leni terindikasi menjadi pihak yang dirugikan oleh tudingan yang disampaikan dalam komunikasi antara Ketua BKOW Sumsel, Hj. Lydiawati Cik Ujang, dengan dirinya.

Atas persoalan tersebut, Leni kemudian berupaya membuka jalur komunikasi melalui Sekretaris BKOW Sumsel. Komunikasi itu akhirnya mengarah pada pertemuan yang digelar 24 September.

Namun, Sunnah menyebut pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.

“Pertemuan gagal dan tidak menemukan kesepakatan apa pun,” ujarnya.

Sunnah menegaskan, pihaknya tidak sedang mempermasalahkan jabatan seseorang semata.

Menurut dia, ketika nama DPW Srikandi Pemuda Pancasila ikut terseret dalam persoalan, maka masalah tersebut berubah menjadi persoalan kelembagaan dan menyangkut reputasi organisasi.

Karena itu, ia meminta adanya penjelasan yang terang mengenai tudingan yang dipersoalkan.

Sunnah juga menyayangkan belum adanya ruang mediasi dari Dewan Pembina BKOW Sumsel. Padahal, menurut dia, surat-surat yang dilayangkan pihaknya telah ditembuskan kepada pihak terkait.

“Setidaknya dipanggil, baik pihak Srikandi maupun BKOW. Apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Ia menilai mekanisme mediasi diperlukan agar persoalan tidak terus berkembang menjadi polemik terbuka antarorganisasi perempuan di Sumatera Selatan.

Sunnah juga membantah anggapan bahwa langkah DPW Srikandi Pemuda Pancasila tersebut hanya untuk mencari perhatian.

“Ini bukan mencari muka. Persoalannya besar karena ada nama baik yang dipertaruhkan,” ujarnya.

Sementara itu, Leni Mardiana mengungkap persoalan lain yang disebut turut memukul dirinya secara pribadi.

Leni membantah kabar yang menyebut dirinya merokok ketika mengikuti Musyawarah Paripurna (Muspar) BKOW Sumatera Selatan.

Ia mengaku keberatan karena tudingan tersebut, menurutnya, tidak sesuai dengan kenyataan yang ia alami.

“Saya sedih dan kesal karena saya tidak melakukannya, tetapi ada yang menuduh seperti itu,” kata Leni.

Bagi Leni, persoalan tersebut bukan perkara ringan. Ia mengatakan tudingan itu berkaitan langsung dengan kredibilitas dirinya sebagai pengurus organisasi sekaligus penyuluh kesehatan.

Leni juga menyampaikan bahwa dirinya merupakan penyintas kanker dan selama ini berupaya menjaga pola hidup sehat.

Karena itu, ia menilai tudingan mengenai rokok memiliki dampak terhadap citra dan reputasi pribadinya.

“Sebagai penyintas kanker, saya benar-benar menjaga pola hidup sehat,” ujarnya.

Polemik ini kini memasuki tahap yang lebih serius setelah jalur komunikasi dan pertemuan belum menghasilkan titik temu.

DPW Srikandi Pemuda Pancasila Sumsel menyatakan masih mempertimbangkan langkah berikutnya sesuai proses yang telah ditempuh, termasuk proses hukum.

Sementara itu, pihak BKOW Sumatera Selatan, termasuk Ketua BKOW Hj. Lydiawati Cik Ujang, belum memberikan keterangan atau tanggapan yang dimuat dalam berita ini terkait tudingan, kronologi, maupun bantahan yang disampaikan DPW Srikandi Pemuda Pancasila Sumsel.

Konfirmasi dari BKOW diperlukan agar persoalan ini tidak hanya berkembang berdasarkan keterangan dari satu pihak dan publik dapat memperoleh gambaran utuh mengenai duduk perkara yang sebenarnya.(H Ferizal).